Monday, 30 November 2015

5 Tahap Respon Kehilangan



Mungkin semua orang pernah mengalami berduka, kehilangan, entah itu orang terdekat, benda kesayangan, pekerjaan, uang ataupun kegagalan. Pastinya timbul perasaan sedih, marah, nangis, kecewa campur aduk deh ya. Penyesalan juga suka datang ya, dan penyesalan itu pasti datangnya belakangan ya ga, kalau di awal itu namanya pendafatran ya hehe. Tapi yang jelas sebagai muslim tak lupa pastinya kita mengucapkan Innalillahi wainnaliahi rojiun. Bahwa semua akan kembali padaNya. 

Proses menerima duka, kehilangan atau kegagalan itu tidak bisa dibilang mudah ya, meksipun tiap orang pasti berbeda cara menyikapi dan juga menerimanya. Karena hal ini tergantung dari respon, arti dari kehilangannya itu, kondisi fisik dan psikologi, dan juga spiritual.  Dan secara sadar atau tidak sebenarnya kita melalui beberapa tahap proses duka karena kehilangan atau kegagalan itu. Nah inilah tahap – tahap respon berduka karena kehilangan ataupun kegagalan yang sering kita lalui. Tahap kehilangan menurut Kubler-Ross (1969) ada 5 tahap yang di kenal dengan  “The Five Stages of Grief” dimana biasanya berubah secara berkesinambungan, dan perubahan ini adalah normal. 


  • Denial (perasaan tidak percaya)
Saat kita mengetahui kalau kita kehilangan sesuatu ataupun kegagalan, apa yang kita rasakan? Pastinya timbul perasaan idak percaya dan menolak. Ini adalah tahap pertama yang kita alami saat mengalami duka karena kehilangan dan juga kegagalan. Pada fase ini kita akan merasakan perasaan tidak percaya sama apa yang terjadi, perasaan penolakan. Reaksi penolakan yang timbul bisa menangis, emas bahkan sampai shock. Kehilangan ataupun kegagalan memang bukanlah proses yang mudah untuk bisa diterima begitu saja.
Selain itu pengharuhnya  terhadap kita juga sangat besar. Tidak jarang orang melakukan hal – hal yang di luar batas kewajaran karena tidak bisa mengontrol emosi. Namun fase denial ini sebetulnya bisa dibilang merupakan fase yang melindungi kita dari beban menanggung semua emosi saat proses kehilangan. Coba kita bayangkan apa bila semua emosi kita tanggung semuanya pada saat bersamaan pastinya akan terasa sangat berat bukan?  Makanya otak kita itu memprosesnya secara bertahap di mulai dengan adanya perasaan tidak percaya sama semua yang terjadi. Dan pada proses ini juga terjadi proses memutar kemabali pada detik – detik sebelum kehilangan secara berulang – ulang. 

Dan pada proses memutar dan mengulang kejadian itu merupakan cara yan ampuh untuk membantu kita menerima bahwa kehilangan atau duka itu adalah nyata. Pada fase ini pernah ga timbul pertanyaan “koq ini bisa terjadi?” atau “kenapa ini bisa terjadi?” kalau udah sampai di sini itu pertanda bahwa kita sudah melalui proses denial dan keluar menuju pada tahap penyembuhan berikutnya.   
  • Anger (perasaan marah)
Saat kehilangan maupun mengalami kegagalan pastinya timbul rasa  marah kan? Inilah tahap kedua yang kita lalui, setalah kita melewati fase penolakan atau tidak percaya. Saat kita masuk ke tahap marah ini, perasaan marah yang kita rasakan bisa bermanifestasi secara berbeda – beda. Perasaan marah bisa ditujukan pada orang  yang dicintai, pada dunia, pada diri sendiri bahkan pada Tuhan. Rasa marah yang kita rasakan ini bisa jadi berbeda – beda mengekspresikannya, bisa hanya disimpan oleh diri sendiri atau menyalahkan diri sendiri dengan apa yang terjadi, bisa juga melampiaskannya pada benda – benda yang ada disekitar, atau pada orang lain yang ada disekitar kita. Kadang juga perasaan marah ini susah untuk dikendalikannya. 

Sebetulnya perasaan marah ini adalah proses emosi normal yang terjadi pada kita. Hanya saja kita perlu mengerti bahwa proses marah ini harus di arahkan secara positive, dan menghindari upaya untuk menghukum atau melukai orang lain, merusak diri sendiri dan juga orang lain. Berusahalah menerima perasaan marah ini, membiarkan diri kita menerima dan merasakan prosesnya dengan cara yang lebih sehat untuk membantu proses marah tersebut hingga ahirnya sembuh.  


  • Bargaining (Mencoba untuk tidak peduli)
Aetelah kita melewati rasa marah, fase selanjutnya yang kita rasakan adalah munculnya perasaan lelah dengan yang terjadi. Pada tahap ini akan timbul perasaan ingin kembali ke kehidupan normal lagi. Proses ini  membantu kita untuk lebih fokus ke masa yang akan datang, ke masa depan, berdoa dan berharap nanti atau suatu saat akan dipertemukan lagi dengan yang telah hilang. Kalau kehilangan seseorang karena meninggal berharap akan dipertemukan kelak di akhirat, kalau kehilangan seseorang karena suatu hal berharap mendapat penggantinya yang lebih baik, kehilangan benda kesayangan berharap cepat tergantikan, kehilangan uang berharap dapat lagi yang lebih dari itu dan karena kegagalan berharap dapat lebih berhasil lagi.  
  • Depression (perasaan depresi)
Setelah melewati fase yang fokus ke masa depan, timbulah perasaan yang kosong, kesepian, merasa hidup berjalan terasa sangat lambat. Perasaan duka tahap ini lebih mendalam, saat bangun tidur di pagi hari terasa begitu perih dan adanya perasaan tidak peduli terhadap keadaan yang terjadi di sekitar.  Namun perasan ini bukanlah penyakit, ini adalah proses normal dari perasaan duka yang sangat mendalam yang kita alami.

Untuk menjernihkan perasaan ini bisa dengan cara pergi ke tempat yang sepi dan juga tenang. Disini kita bisa duduk berdiam diri merasakan emosi tersebut dengan leluasa dan hal ini akan membantu menjernihkan perasaan emosi yang kita rasakan. Tahap ini waktunya tidak bisa dipastikan, bisa berlangsung lama bisa juga sebentar. Tidak bisa ditentukan kapan berakhirnya. Namun usaha yang postitif yang kita lakukan akan lebih cepat memulihkannya.   
  • Acceptance (Menerima kejadian duka cita sebagai hal yang nyata)
Setelah kita melalaui beberapa proses duka, kehilangan maupun kegagalan yang kita lewati, akhirnya kita sampai pada perasaan penerimaan. Menerima semua yang telah terjadi, menerima duka, menerima kehilangan, menerima kegagalan. Tahap ini kita sudah siap untuk hidup tanpa orang terdekat, tanpa barang kesayangan kita. Dan pada yang mengalami kegagalan sudah siap dengan memulai rencana baru dan harapan baru untuk masa depan yang lebih cerah. Namun tahap ini bukan berarti bahwa perasaan duka dan juga kehilangan sudah sembuh secara total, rasa kehilangan atau kegagalan yang kita alami akan selalu ada di dalam hati yang paling dalam, tapi jika kita sudah pada tahap ini, berarti bahwa kita sudah siap menerima kenyataan, menerima kehilangan dan juga menerima kegagalan. Dan suadah siap move on. 

Itulah tahap – tahap atau fase saat kita mengalami duka, kehilangan atau kegegalan. Tentunya proses, cara dan lamanya dari tahap ke tahap berikutnya tidak akan sama, bisa berbeda – beda. Yang pasti disadari atau tidak kita akan melewati dan mengalami proses atau tahap – tahap ini.  Bagaimana kita dan juga pikiran kita bereaksi dengan proses tersebut pastinya berbeda – beda sesuai dengan kepribadian dan pengalaman kita. Artinya ketika kita pernah mengalaminya tentunya akan berbeda dengan yang baru pertama kali mengalaminya. Selain itu faktor spiritual juga berpengaruh. Selalu berdoa, percaya pada Takdir, Qodo dan Qodar, menyerahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa bahwa semua kehidupan telah di atur olehNya itu yang lebih penting.

Sumber Refferensi : Berbagai Sumber
post signature

13 comments:

Yasinta Astuti said...

Sulit ya mak melewati kehilangan itu. Tapi biasanya setelah melewati masa seperti itu justru kita makin kuat

Sistalisius said...

Kalo saya mah karena sudah terlalu sering mengalami hal seperti itu jadinya sekarang langsung loncat ke Acceptance terus setelah itu Depression. Makasih udah share :D

Ahliah Citra said...

Hidup adalah masalah ditinggalkan atau meninggalkan.

Hiks...
Kadang susah ya, Mak menerima kenyataan kalau kita kehilangan apalagi itu seseorang yang penting di hidup kita

Nurul Khabibah said...

Aduuuh mak, sampai sekarang saya masih belajar move on, melupakan kegagalan dan ingin bangkit

thanks ya maak dah sharing

Nunk Arif said...

Iya mak, cobaan membuat kita jadi lebih kuat ya :)

Nunk Arif said...

Betul mak perlu proses yg lama dan itu ga mudah ya :)

Nunk Arif said...

Ayo mak move on udh mau tahun baru neh hehe, ok sama2 mak :)

Wina Azam said...

kalo jenis kehilangan itu berbentuk benda aku biasanya gampang melupakan, kalo kata orang jawa sih, yo wis lah, diikhlaske. tapi kalo kehilangan orang tersayang nah itu yang sulit. bawaannya mberebes terus...

Rifa Aditya said...

setiap pertemuan pasti ada perpisahan, kayak syair lagu saja hehe

i Jeverson said...

ketika kita kehilangan sesuatu, jalan terbaik adalah mengikhlaskan. berarti, waktu saya baru diputusin pacar... tahap-tahapnya adalah: pertama denial, lalau depression, kemudian bargaining dan pada akhirnya acceptance

Nunk Arif said...

betul ikhlas mas, ayo move on,,,move on mas :)

Ajeng Veran said...

Alhamdulillah saya sudah di tahap acceptance mbak.. Hehehhe
Yang penting ingat kalau segala perasaan adalah titipan Tuhan, #iisshh :D

Titis Ayuningsih said...

Makasih mak untuk sharingnya, semoga saya bisa belajar dari postingan ini ^^

Post a Comment

Berbeda namun Tetap Sehati

Perbedaan…apa makna dari perbedaan? Yang jelas bukan persamaan ya ga? Hehehe… menurut saya bukan perkara yang mudah untuk menyikapi sua...